Presiden Prabowo memangkas belanja negara Rp308 triliun untuk cegah korupsi birokrasi dan mengalihkan dana pada pengentasan kemiskinan daerah.
Redaksi
21 Maret 2026

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah drastis dengan memotong belanja negara sebesar Rp308 triliun. Kebijakan ini merupakan upaya mitigasi langsung untuk menutup celah rasuah di lingkungan birokrasi, sekaligus mengalihkan fokus pada penyelesaian masalah ekonomi riil masyarakat.
Bongkar Belanja Fiktif dan Seremonial
Pemerintah pusat mulai menyisir pos pengeluaran yang terindikasi rawan penyelewengan. Fokus utama pemangkasan menyasar pada belanja rutin yang tidak esensial. Praktik pengadaan barang yang terus berulang setiap tahun kini dihentikan secara tegas.
Beberapa pos pengeluaran yang masuk dalam daftar hitam pemborosan meliputi:
Penyelenggaraan acara seremonial kementerian.
Pembelian komputer dan alat tulis kantor tahunan.
Biaya rapat dan seminar di luar kantor.
Kepala Negara menegaskan bahwa langkah efisiensi awal ini terbukti efektif menyelamatkan uang rakyat dari potensi tindak pidana korupsi.
"Waktu pertama melakukan efisiensi, kita menghemat Rp308 triliun dari pemerintah pusat. Dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya, itu semua Rp308 triliun ini jika tidak dipotong, ini ke arah korupsi."
— Prabowo Subianto, Kamis (19/3/2026)
Realokasi untuk Mengentaskan Kemiskinan
Evaluasi ketat juga diterapkan pada berbagai kegiatan kajian lembaga pemerintah. Selama ini, banyak riset birokrasi dinilai tidak menyentuh akar persoalan mendasar rakyat, terutama soal minimnya lapangan kerja.
Optimalisasi efisiensi anggaran negara sejatinya membuka ruang fiskal yang lebih luas. Dana ratusan triliun tersebut jauh lebih krusial jika disalurkan untuk memperbaiki taraf hidup warga. Sebagai contoh, pengentasan kemiskinan di wilayah rentan seperti Sampang tentu membutuhkan intervensi program yang nyata, dibandingkan sekadar membiayai studi kelayakan yang tidak aplikatif. Pemangkasan belanja pemerintah ini diharapkan menjadi standar baru pengelolaan kas negara.
Opsi WFH Hadapi Krisis Global
Selain perbaikan internal, kondisi geopolitik turut memengaruhi arah kebijakan dalam negeri. Tekanan ekonomi akibat konflik di kawasan Timur Tengah memaksa pemerintah mencari strategi pengendalian konsumsi energi operasional.
Sebagai solusi, pemerintah sedang mempertimbangkan penyesuaian sistem kerja aparat negara. Beberapa referensi dari luar negeri mulai dievaluasi untuk menekan biaya operasional harian pemerintahan tanpa mengurangi produktivitas pelayanan publik.
"Saya lihat negara-negara lain umpamanya hari kerja dari 5 jadi 4, Filipina, Pakistan. Kemudian work from home, bekerja dari rumah. Waktu Covid kita lakukan cukup berhasil. Saya kira kita bisa lakukan itu juga. Mungkin 75 persen karyawan atau pegawai bisa kerja dari rumah."
Prabowo Subianto